Selamat Datang

Selamat Datang

Pages

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

My Photos

Rabu, 19 September 2012

Mahasiswa STAINU di Maroko, Gelar Wisata Religi




Begitu banyak tradisi religi yang biasa dilakukan warga Nahdliyyin untuk menghidupkan sunnah Rasululah Saw. salah satunya adalah ziarah kubur.  Mahasiswa STAINU kelas Internasional di Maroko, mereka tak mau kehilangan tradisi ke-NU-annya. Tepat pada hari sabtu 08/09/2012 mereka mengadakan wisata religi dengan mengunjungi makam para wali dan pembesar Maroko serta beberapa tempat sejarah kebudayaan Islam.

Wisata religi kali ini, difokuskan mengunjungi dua kota besar Maroko, Fez dan Meknes yang terkenal dengan banyak makam para wali dan pembesar Maroko itu. Ziarah ini dimulai dari kota Meknes yang terletak 140 KM dari kota Rabat dengan mengunjungi Volubilis atau Oualili dalam sebutan bahasa Arab-Maroko, yaitu puing-puing peninggalan kerajaan Romawi kuno dan Dareh (Kuburan) Moulay Idris Akbar yang dipercayai masih mempunyai keturunan dengan Rasullullah Saw. dan raja Maroko.

Semetara untuk wisata di kota Fez, kali ini  rombongan mahasiswa STAINU itu mengunjungi makam Ibn Al-‘Arabi yang bernama lengkap Abu bakar bin Al-‘Arabi Muhammad bin Abdullah bin Muhammad Al-Hafiz Al-Maliki Al-Mu’afiri, lahir Sevilla-Spanyol(468 H). Beliau dikenal sebagai ahli tafsir, Hadits, Sastra dan hukum Islam. Salah satu kitabnya yang paling fenomenal adalah Ahkamul Qur’an. Beliau meninggal di Fez pada musim semi (543 H).

Kemudian ziarah kali ini dilanjutkan ke Masjid dan Univ. Al-Qurawiyyin, yang berdiri pada tahun 859 H oleh Fatima, putri muda saudagar imigran yang sukses asal Qayrawani-Tunis. Konon, dari Al-qurawiyyin ini lahir sarjana-sarjana kaliber dunia seperti Ibnu Rusyd (1321 M) dan ibnu Khaldun (1359 M) serta beberapa tokoh nasional maupun internasional Maroko saat ini. Univ.al-Qurawiyyin ini tetap menjadi kekuatan tradisi Ilmu keislaman terutama dalam hukum Islam.

Setelah mengunjungi tempat ini, mereka melanjutkan ziarahnya ke makam Sayyidul Auliya Syeikh Ahmad bin Muhammad Al-Tijani yang lahir di Ain Madhi (kini bernama Aljazair). Ia dikenal sebagai ulama cerdas, menguasai Al-Quran sejak berusia tujuh tahun dan mengeluarkan fatwanya yang pertama pada usia 15 tahun. Ia mendirikan persaudaraan Sufi pada akhir abad ke-18 dengan menggunakan kalender Gregoria atau menuju awal abad ke-13 dalam kalender Hijriah. Banyak umat Islam saat itu yang mendatangi dirinya untuk mendengarkan ajaran ulama yang pernah menghabiskan waktunya untuk bermeditasi di Padang Sahara.
Bahkan Sultan Maroko saat itu, Moulay Slimane, mendukung Sheikh Tijani. Murid-murid Syeikh Tijani ini berasal dari berbagai negara tetangga. Mereka inilah yang mengajarkan ajaran gurunya. Saat ini ada jutaan pengikutnya di Afrika Barat dan Asia seperti Indonesia.

Selama berziarah, rombongan mahasiswa STAINU ini selalu melanggengkan Tahlil dan kirim doa kepada pemilik makam agar Allah Swt melimpahkan berkah ilmunya. Maka tak heran, jika para pengunjung lain terkagum-kagum menyaksikan rombongan ini yang selalu membaca al-fatihah dan surat-surat pilihan serta doa kepada si mayyit.

Dalam kunjungan ini diikuti juga oleh Dosen UIN Yogyakarta, Pakar filsafat Islam, Dr. H. Zuhri Amin yang sedang mengadakan penelitian tentang Ibnu Hazm, para pengurus cabang istimewa Nahdlatul Ulama(PCINU) Maroko, dan beberapa mahasiswa Indonesia di Maroko. Menurut jadwal yang ditentukan, rombongan mahasiswa STAINU ini akan kembali ke Indonesia sekitar akhir bulan Januari 2013 mendatang.

Senin, 17 September 2012

Melihat Tradisi Islam di Maroko

Di depan Masjid Hassan II



Maroko adalah Negeri eksotik di ujung barat dunia Islam. Maroko merupakan salah satu negera kerajaan dengan penduduk mayoritas muslim (98,7 % dan sisanya Yahudi). Agama Islam di negeri ini dikembangkan dengan menghargai tradisi lokal, seperti yang dilakukan oleh para dai atau wali songo ketika menyebarkan Islam di Nusantara.

Maroko juga dikenal sebagai negara Arab yang gaul, nuansa Eropanya kuat, tetapi tak kehilangan akar tradisi Arab dan Islam. Kebebasan berpendapat dan tradisi berpikir sangat terbuka di negeri Ibnu Batutah ini. Pemerintah tidak memaksa rakyatnya untuk berpola pikir secara kaku atau seragam. Barangkali salah satunya adalah karena faktor penguasa Maroko saat ini, Raja Muhammad VI, seorang lulusan Eropa yang berpikiran Modern. Ia bertekad untuk memodernkan Maroko, namun tetap melandaskannya kepada ajaran Islam.

Raja yang berusia 49 tahun ini sedang berupaya mempertahankan tradisi keagamaan yang berusia ribuan tahun dengan arus globalisasi. Maka tak heran, jika di negeri bekas jajahan Perancis dn Spanyol ini, simbol-simbol tradisi Islam tetap kelihatan. Aktifitas religius selalu semarak. Aneka ritual tarekat sufi bebas berekspresi. Di tengah kuatnya arus modernisasi dan globalisasi yang berhembus kencang dari Barat.

Ada Tradisi Kenduri di Maroko

Walaupun belum genap tiga tahun saya tinggal di negeri yang bermadzhab Maliki tulen  ini, paling tidak saya sudah bisa mengenal budaya dan tradisi yang berkembang dan mereka anut. Salah satu pengalaman yang cukup berkesan bagi saya, ketika saya sering diundang pada acara-acara jamuan makan mereka, baik itu pada walimah pengantin, tasyakuran, khitanan, maupun acara kirim do’a untuk mayit.

Di tanah air, acara seperti ini sangat populer sekali dengan istilah kenduri atau selamatan (slametan-jawa). Istilah tersebut di Maroko lebih akrab dengan sebutan zardah ( الزردة) / salkah (السلكة) dalam bahasa darijah (dialek) mereka. Salah satu budaya kenduri di indonesia yang masih eksis yaitu Tahlilan. Menurut kajian historis, tahlilan ini merupakan hasil akulturasi budaya Hindu. Kala itu para Muballigh Islam di indonesia yaitu wali songo berhasil melakukan dialog dan negoisasi dengan tradisi lokal. Sehingga Islam dapat diterima dengan mudah oleh masyarakat Indonesia.

Bagi warga Nahdliyin(NU), tahlilan memang merupakan tradisi kegemaran yang sudah mengakar dan masih terus dilestarikan hingga kini. Lain halnya dengan warga Muhammadiyyah, mereka memang agak sedikit alergi dengan tradisi tahlilan seperti ini. Konon menurut cerita, sebenaranya dahulu KH.Ahmad Dahlan sendiri juga sering tahlilan dan mengamalkan tradisi-tradisi NU lainnya. Karena Beliau lahir dari kalangan yang kental dengan budaya lokal, seperti Hindu dan Budha. Tapi belakangan ini, entah kenapa para penerusnya sangat alergi sekali dengan tahlilan dan ritual-ritual yang semisalnya. Wa allahu a’lam.

Satu hal yang sangat menarik bagi saya, ketika saya mendapatkan cerita dari salah seorang sahabat saya, anak Maroko yang baru saja ditinggal wafat ayahnya. Dia sempat bercerita kepada saya, bahwa kami biasanya mengadakan zardah dengan membaca Al-qur’an dengan memilih surat-surat khusus seperti surat Yasin, al-ikhlas, Muawidzatain, dan beberapa kalimat tayyibah seperti tahlil pada beberapa hari tertentu pasca kematian jenazah itu. Misalnya, ada beberapa sekelompok orang yang memperingati hari berkabung itu sejak hari pertama meninggalnya hingga hari ke-7 dan 40 setelah kematiannya.

Nah, ini merupakan salah satu bukti bahwa di Negeri seribu benteng ini, ternyata ada juga tradisi semacam kenduri yang mirip sekali dan bahkan kalau boleh saya bilang hampir sama persis dengan budaya kita di tanah air. Barang kali ini karena Syeikh Maulana Malik Ibrahim yang dikenal dengan Maulana Maghribi itu benar asalnya dari Maroko. Maka Islam di Maroko ini sangat kultural dan ramah terhadap budaya lokal sebagaimana yang berkembang di Indonesia. Beda dengan negara arab lainnya seperti Saudi.

Orang Maroko mempunyai tradisi yang unik saat menyajikan makanan, baik itu pada acara kenduri mau jamuan makan lainnya, mereka menyajikan menu makanan itu sebanyak tiga kali dan bahkan bisa lebih.
Jamuan makan di rumah konglomerat Maroko (Kambing guling)

Misalnya, menu pertama berupa  ikan laut, kemudian disusul dengan menu kedua, yaitu ayam dan ketiganya berupa daging sapi atau kambing. Bahkan mereka kalau menyajikan daging kambing terkadang berupa kambing utuhan (kambing guling) yang hanya dipotong kepala dan kakinya saja. Jadi, masaknya seperti masak ayam panggang (ingkung). Porsi menu tersebut menurut ukuran perut orang Indonesia, sangat luar biasa banyaknya. Soalnya bagi mereka satu ekor ayam itu untuk porsi satu orang atau bahkan kadang-kadang bisa lebih.

Budaya yang sering menjadi buah bibir sebagian ulama’ Indonesia ini, ternyata disini tak sedikit juga penggemarnya. Walaupun ada juga beberapa kelompok yang enggan mengikutinya khususnya diacara-acara jamuan makan yang diadakan pasca ada orang yang meninggal, atau sering kita kenal dengan istilah “kirim do’a kepada si mayyit”. Bagi kelompok yang kontra dalam masalah ini, mereka beranggapan bahwa acara itu tidak ada tuntunannya didalam syari’at Islam, sehingga itu termasuk bid’ah dan tentu sangat sesat dan menyesatkan. Kelompok yang kontra itu biasanya selalu berpedoman pada dalil yang sudah tidak asing lagi bagi kita umat islam, yaitu: “setiap perkara yang baru itu adalah bid’ah, dan setiap Bid’ah itu sesat, dan setiap yang sesat itu masuk neraka”. Dan argumen yang paling kuat bagi mereka bahwa ibadah itu bersifat tauqifi (tak bisa diedit/diotak-atik lagi).

Paham Aswaja di Maroko

Aqidah Asy’ariyah merupakan label agama dan budaya yang sangat kental serta menjadi identitas beragama di Maroko. Kenyataan ini telah diungkapkan oleh seorang penyair terkenal Maroko, Abdul wahid Ibn Asyir yang wafat pada tahun 1040 H dalam syairnya :
في عقد الأشعري وفقه مالك *** وفي طريقة الجنيد السالك
Kira-kira artinya kurang lebih: “Aqidahnya Asy’ariyah, fiqihnya imam Malik dan tarekat sufinya mengikuti Al Junaid”.
Salah satu bukit perbatasan Spanyol
Maka tidak heran, kalau paham Aswaja An-Nahdliyyah mudah diterima oleh warga muslim Maroko. Hal itu terbukti dengan ikut sertanya alim ulama Maroko dalam berbagai Moment yang diselenggarakan oleh Nahdlatul Ulama, seperti acara ICIS yang dihadiri oleh Prof. Dr. Idris Chalifa (Pakar Aqidah Asy-’Ariyyah Maroko) dan Dr. yessif (Penasehat Raja Maroko) dan Multaqo As-Sufi di Jakarta. Sedangkan di Maroko sendiri, acara pembukaan Konferensi I Nahdlatul Ulama cabang istimewa Maroko yang berlangsung pada Ahad 15 juli 2012 itu, telah dibuka secara resmi oleh salah seorang ulama Maroko, Prof. Dr. Mariam Ait Ahmed. Beliau juga pernah menghadiri Kongres Muslimat NU ke-16 di provinsi lampung.

Saat ini di Maroko telah berdiri komunitas warga NU yang tergabung dalam Pengurus cabang Istimewa  Nahdlatul Ulama (PCINU) Maroko. Komunitas Nahdliyyin ini terdiri dari kalangan pelajar, pejabat KBRI, TKI, dan WNA seperti Malaysia dan Maroko sendiri. Kini PCINU Maroko sudah mulai dikenal dan bekerjasama dengan beberapa lembaga dan organisasi kemasyarakatan di Maroko.

Kalau kita telusuri lebih jauh, di Maroko ini juga ada gerakan seperti salafy, tetapi mereka tidak berani muncul kepermukaan masyarakat secara terang-terangan. Maklumlah Maroko adalah Negara Kerajaan. Bahkan Jamaah Tabligh pun ada di Maroko ini. Penulis pernah menemuinya bahkan diundang dalam suatu acara yang mereka adakan, karena pada waktu itu kebetulan ada rombongan Jamaah tabligh dari Indonesia.

Telah dimuat di Koran Republika Senin, 17 September 2012, 11:54 WIB
klik: http://www.republika.co.id/berita/jurnalisme-warga/kabar/12/09/17/mah9ca-melihat-tradisi-islam-di-maroko

Delegasi PCINU Hadiri Pekan Budaya di Maroko




Tangier, NU Online
Menjadi sebuah kehormatan khusus bagi PCINU Maroko. Kali ini diundang oleh Jam’iyyah Sidi Thalhah, Lembaga Pemerhati Lingkungan dan Karya Klasik yang bekerjasama dengan ASMIB (Assosiation Morocco Indonesia Brotherhood) untuk menghadiri acara Pekan Budaya dalam memperingati Sidi Thalhah dengan tema: “Perjuangan Al-Wali Sidi Thalhah Al-Darij dalam Memperjuangkan Kemerdekaan Maroko dan Pribadi Keagamaanya” yang berlangsung di dua kota, Tetouan dan Tanger 15-16 September 2012.
Acara ini dihadiri oleh Dubes RI untuk Kerajaan Maroko, KH. Tosari Wijaya yang diundang untuk menyampaikan pidatonya dalam pembukaan seminar Pekan Budaya ini. Turut hadir juga penasehat Hukum Menteri luar negeri Maroko, Dr.Ibrahim Amusi, Ketua Majlis Ilmi Tetouan,  Dr. Abdlu Ghofour An-Nasir, Sejarawan Maroko, Mohamed Ben Azuz Hakiem, Ketua organisasi Dakwah Islam Chefchaouen, Maroko, Ali Raisuni, Perwakilan Dubes Malaysia, Delegasi Pelajar Turki di Maroko, pejabat KBRI Rabat, para Tokoh dan Ulama Maroko serta tamu undangan. Sedangkan dari Delegasi PCINU sendiri diwakili oleh Dewan Mustasyar (H. Husnul Amal Masúd, Ma.), Sekretaris (Rifqi Maula) dan Koordonator LPNU (Sri Hidayanti) serta beberapa anggota NU Maroko.
Dalam acara ini, selain bertujuan memperingati sosok sidi Thalhah sebagai Pejuang Kemerdekaan Maroko. Juga diperingati sosok Almarhumah Mahsushoh Ujiati, Istri KH. Tosari Wijaya yang mendapatkan anugerah penghargaan sebagai pejuang muslimah hubungan Indonesia-Maroko yang wafat di Maroko pada tahun 2011 yang lalu.
Rangkaian acara ini diawali dengan pembukaan seminar yang diisi oleh sambutan-sambutan dari beberapa Tokoh dan Pakar sejarah Maroko. Tidak ketinggalan pula tim Rebana PPI Maroko yang tergabung dalam anggota luar biasa (STAINU), ikut memeriahkan pembukaan Pekan Budaya ini. Acara ini masih berlangsung dengan berbagai agenda seperti Festival musik khas Maroko dan sholawatan yang akan diselenggarakan di Malosa-Tanger.
Dubes RI untuk Kerajaan Maroko dalam pidatonya mengatakan, “Ketika kita membicarakan hubungan Indonesia-Maroko, maka tidak pernah terpisahkan dari peran ulama Maroko dalam penyebaran Islam di Indonesia, seperti Ibnu Bathutoh dan Maulana Malik Ibrahim serta Pejuang Imama Bonjol yang Ibunya berasal dari Maroko. Maka tidak heran jika Islam Moderat di Indonesia sama dengan Islam Moderat di Maroko.”
Prof. Dr. Mariam Ait Ahmed dalam sambutannya mengatakan,”saya sangat salut dengan warga Indonesia yang sangat menghormati ulama Maroko dan karya-karyanya, seperti melanggengkan Dalailul Khoirat dalam setiap wiridnya…”

telah dimuat di NUonline: Senin, 17/09/2012 09:58

Isteri Dubes RI untuk Maroko Terima Penghargaan Pejuang Muslimah




Dalam perayaan Pekan Budaya tahun 2012 ini, Yayasan Sidi Thalhah, Lembaga Pemerhati Lingkungan dan Karya Klasik memberikan penghargaan kepada Almarhumah Nyai Hj. Mahsushoh Ujiati binti Mudatsir sebagai Pejuang Muslimah hubungan Indonesia-Maroko. Tentu moment seperti ini menjadi sebuah kebanggaan bagi Kedutaan RI di Maroko khususnya dan umumnya bangsa Indonesia.

Sosok anggota Dewan Pakar Pimpinan Pusat Muslimat NU periode 2011-2016 ini, dikenal sangat aktif dan kreatif dalam berbagai kegiatan di Maroko, baik itu kegiatan kewanitaan ataupun yang lainnya. Beliau tidak jarang ikut serta menyumbangkan ide-idenya untuk memperkuat hubungan diplomatik Indonesia-Maroko. Dan itu sudah terbukti dengan munculnya beberapa program dan kegiatan baru di Maroko. Maka tidak heran jika Beliau banyak dikenal baik oleh masyarakat Maroko.

Dimata Ketua Umum Muslimat NU sendiri, Khofifah Indar Parawansa,  Beliau dikenal sebagai sosok pekerja keras dan kader Muslimat tulen. Bahkan berkat pengajaran beliau tentang tradisi agama Islam di Indonesia, khususnya NU. Kini tradisi Tawasulan(mendoakan orang dengan membaca surat Al-Fatihah) itu sudah mulai mengakar dalam jiwa warga Maroko. Beliau ini wafat di Maroko pada 21 Desember tahun 2011 yang lalu. Sebelumnya sempat dirawat di rumah Sakit Scech Zaid Rabat, Maroko.

Pekan Budaya kali ini bertema: “Perjuangan Waliyullah Sidi Thalhah Al-Darij dalam Memperjuangkan Kemerdekaan Maroko dan Pribadi Keagamaanya” berlangsung di dua kota, Tetouan dan Tanger 15-16 September 2012.

Acara ini dihadiri oleh Dubes RI untuk Kerajaan Maroko, H. Tosari Widjada yang diundang untuk menyampaikan pidatonya dalam pembukaan seminar Pekan Budaya ini. Turut hadir juga penasehat Hukum Menteri luar negeri Maroko, Dr.Ibrahim Amusi, Ketua Majlis Ilmi Tetouan,  Dr. Abdlu Ghofour An-Nasir, Sejarawan Maroko, Mohamed Ben Azuz Hakiem, Ketua organisasi Dakwah Islam Chefchaouen, Maroko, Dr. Ali Raisuni, Perwakilan Dubes Malaysia, Delegasi Pelajar Turki, PPI Maroko, pejabat KBRI Rabat, para Tokoh dan Ulama Maroko serta tamu undangan.

Rangkaian acara ini diawali dengan pembukaan seminar yang diisi oleh sambutan-sambutan dari beberapa Tokoh dan Pakar sejarah Maroko. Tidak ketinggalan pula tim Rebana PPI Maroko yang tergabung dalam anggota luar biasa (STAINU) pun, ikut memeriahkan pembukaan Pekan Budaya ini. Acara ini masih berlangsung dengan berbagai agenda seperti Festival musik khas Maroko dan sholawatan yang akan diselenggarakan di Malosa-Tanger.

Dubes RI untuk Kerajaan Maroko dalam pidatonya mengatakan, “Ketika kita membicarakan hubungan Indonesia-Maroko, maka tidak pernah terpisahkan dari peran ulama Maroko dalam penyebaran Islam di Indonesia, seperti Ibnu Bathutoh dan Maulana Malik Ibrahim serta Pejuang Imama Bonjol yang Ibunya berasal dari Maroko. Maka tidak heran jika Islam Moderat di Indonesia sama dengan Islam Moderat di Maroko”.

Prof. Dr. Mariam Ait Ahmed dalam sambutannya mengatakan,”saya sangat salut dengan warga Indonesia yang sangat menghormati ulama Maroko dan karya-karyanya, seperti melanggengkan Dalailul Khoirat dalam setiap wiridnya…”

Telah dimuat di Koran Tribun (Senin, 17 September 2012 11:11 WIB)

Jumat, 31 Agustus 2012

Mubes yang Terhormat




Mubes PPI Maroko XV sudah didepan mata. Kita sebagai pelajar Indonesia di Maroko akan mengikuti serangkaian acara ini, termasuk memilih pemimpin yang akan membimbing dan melayani kita selama setahun kedepan. Disinilah kita akan belajar berdemokrasi, menyampaikan aspirasi, menerima dan menghargai perbedaan pendapat. Suksesi momen ini jangan sampai kita biarkan berlalu dengan keputusan dan pemilihan emosional yang bukan rasional.
Mubes PPI Maroko itu minimal tidak keluar dari visi dan misinya, dengan berpedoman pada prinsip pokok demokrasi pancasila.
Pertama, Perlindungan terhadap hak asasi manusia. Indonesia ialah negara berdasarkan hukum (rechtstaat) dan tidak berdasarkan kekuasaan belaka (machtstaat). Hak asasi manusia di Indonesia sangat dihormati. Termasuk kebebasan dalam berserikat, berkumpul, berorganisasi(ber-ormas), dan mengeluarkan pendapat. Prinsip kebebasan atau kemerdekaan berserikat itu ditentukan dalam Pasal 28 E ayat (3) UUD 1945 yang menyatakan, “Setiap orang berhak atas kebebasan berserikat, berkumpul, dan mengeluarkan pendapat”. Dengan demikian UUD 1945 secara langsung dan tegas memberikan jaminan kebebasan untuk berserikat atau berorganisasi (freedom of association), kebebasan berkumpul (freedom of assembly), dan kebebasan menyatakan pendapat (freedom of expression), tidak hanya bagi setiap warga negara Indonesia, tetapi juga bagi setiap orang yang artinya termasuk juga orang asing yang berada di Indonesia.
Kedua, Menjunjung tinggi tujuan dan cita-cita nasional. Bangsa Indonesia bercita-cita mewujudkan negara yang bersatu, berdaulat, adil dan makmur. Dengan rumusan singkat, negara Indonesia bercita-cita mewujudkan masyarakat Indonesia yang adil dan makmur
berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. Hal ini sesuai dengan amanat dalam alenia II Pembukaan UUD 1945 yaitu negara Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat adil dan makmur. Tujuan Negara Indonesia selanjutnya terjabar dalam alenia IV Pembukaan UUD 1945. Secara rinci sebagai berikut :
a.    Melindungi seganap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia
b.    Memajukan kesejahteraan umum
c.    Mencerdaskan Kehidupan bangsa
d.   Ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan , perdamaian abadi, dan keadilan sosial
Adapun visi bangsa Indonesia adalah terwujudnya masyarakat Indonesia yang damai, demokratis, berkeadilan, berdaya saing, maju dan sejahtera, dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia yang didukung oleh manusia Indonesia yang sehat, mandiri, beriman, bertakwa dan berahklak mulia, cinta tanah air, berkesadaran hukum dan lingkungan, menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, serta memiliki etos kerja yang tinggi serta berdisiplin.
Rekan-rekanku PPI Maroko…! Mubes itu bukan pengadilan tipikor, atau ajang untuk menghakimi dan memojokkan seseorang. Apalagi mejatuhkan harkat dan martabatnya. Mubes adalah ajang untuk berbenah dan berintropeksi diri, mengoreksi kekurangan dan kelemahan kita selama ini. Jangan sampai kita menodai nilai-nilai keagungan Mubes ini.
Sekarang sudah saatnya PPI Maroko dipimpin oleh sosok pemimpin yang paling tidak memiliki empat karakter.
Pertama, Visioner. Ia yang harus bisa menkonsep visi-misinya sendiri, bukan dibuatkan. Sehingga ia tidak seperti boneka atau wayang yang hanya dimainkan sang Dalang. Ia harus memiliki pengetahuan tentang tujuan dan asas organisasi PPI Maroko. Pemimpin itu harus mampu meraba masa depan dengan program-program kerja unggulan yang rasional dengan skala prioritas.
Kedua, Orientasi kesejahteraan rakyat. Khalifah Umar bin Khattab RA. adalah contoh pemimpin yang selalu berpatroli setiap malam, memastikan bahwa rakyatnya tidak ada yang kelaparan. Demikian pula dengan khalifah Umar bin Abdul Azis, yang mampu mengentaskan kemiskinan melalui instrumen zakat, hanya dalam waktu kurang dari 2 tahun. Demikian pula dengan Ketua PPI Maroko,  ia harus bisa mengalokasikan jatah TEMUS kepada anggotanya yang benar-benar membutuhkan dana tunjangan untuk belajar, bukan hanya bagi yang memenuhi syarat, yang sebenarnya ia serba berkecukupan.
Ketiga, Terbuka. Ketua PPI Maroko itu harus bersikap lapang dada dan legowo untuk menerima, bekerjasama dengan pihak manapun, organisasi manapun, entitas manapun, dengan tidak menentangnya, tidak memboikotnya, dan tidak memusuhinya.
Keempat, Toleran. Sikap toleran merupakan sikap yang harus dimiliki oleh setiap pemimpin didalam kehidupan berorganisasi, karena dalam suatu organisasi itu akan terdiri dari berbagai macam suku, bahasa, aliran dan paham keagamaan. Kemajemukan atau pluralitas merupakan sunnah Allah. Sehingga setiap pemimpin harus mampu bersikap toleran terhadap keyakinan warganya. Prinsip ini berlaku universal, bukan saja terhadap sesama pemeluk Islam tetapi prinsip ini harus berlaku lintas agama, etnis dan paham. Sesuai dengan firman Allah swt.: “Untukmulah agamamu dan untukkulah agamaku”.
Kawan-kawanku PPI Maroko…! PPI adalah organisasi yang memayungi dan mengayomi seluruh pelajar Indonesia yang belajar di luar negeri, tanpa memandang perbedaan suku, ras, paham keagamaan, latar belakang pendidikan, instansi yang mengirim, dan bahkan yang terjun bebas pun harus kita akui. PPI itu harus mampu menghidupakan kreatifitas duta bangsa, melestarikan corak budayanya, mempertahankan nilai-nilai ke-Islam-an dan ke-Indonesia-an.

Selamat mengikuti Mubes semoga sukses…

Rabu, 29 Agustus 2012

Tarawih Dua Putaran di Maroko

Masjid Hassan II di casablanca
MAROKO biasa dikenal dengan sebutan Maghrib (Negeri Matahari Terbenam). Negeri ini pernah dijajah Prancis dan Spanyol. Islam di negeri ini menjadi agama resmi bagi rakyatnya. Mayoritas umat Islam di negeri ini menganut Mazhab Maliki.

Dalam isbat (penetapan) awal dan akhir Ramadhan, masyarakat muslim Maroko selalu menunggu keputusan raja. Jadi, di negeri ini tak ada istilah beda penetapan awal Ramadhan seperti terjadi di Indonesia. Salah satu rutinitas Raja Maroko ketika tiba Ramadhan adalah mengadakan “Pengajian Ramadhan” yang disebut Durus Hasaniyyah yang diadakan hampir seminggu sekali selama Ramadhan. Biasanya  raja mengundang ulama-ulama terkenal dari berbagai negara untuk mengisi pengajian ini. Pada tahun 2010, Prof Dr KH Said Aqil Siraj menjadi penceramah dalam “pengajian raja” ini dengan tema "Perlindungan terhadap agama dan kepercayaan di negara-negara demokratis" (Antitesis terhadap statemen pemisahan antara Agama dan Negara) ”.
Prof. Dr. KH. Said Aqil Siraj berceramah di depan Raja Maroko

Tatkala kita bicara soal puasa Ramadhan di Maroko, nuansanya memang sangat berbeda dengan di Indonesia. Apalagi Ramadhan tahun ini bertepatan dengan musim panas yang waktu siangnya sangat panjang, kurang lebih 17 jam. Warga Indonesia yang tinggal di Maroko selama bulan puasa tentu harus beradaptasi. Apalagi suhu hariannya bisa mencapai 45 derajat Celcius.

Ada hal unik kami rasakan sebagai warga Indonesia yang tinggal di Maroko, yaitu menu berbuka puasa dan sahur orang Maroko yang sangat beragam. Di sini ada santapan makan malam antara selepas berbuka dan sebelum sahur. Tradisi ini tak hanya dilakoni masyarakat kelas menengah ke atas, tapi juga hampir berlaku bagi semua lapisan masyarakat Maroko dengan komposisi menu yang tak jauh berbeda.
Orang Maroko biasanya makan sahur pada pukul 02.30. Sahur bagi mereka sekadar untuk melaksanakan ibadah sunah. Cukup dengan meminum beberapa gelas susu, air putih, dan makanan ringan dari kue-kue kering khas Ramadhan. 

Tarawih khas Maroko

Hal lain yang menarik sepanjang Ramadhan di Maroko adalah shalat Tarawihnya. Ibadah sunat khas Ramadhan ini dilaksanakan dua putaran setiap malamnya. Putaran pertama sebanyak delapan rakaat dilakukan sehabis jamaah menunaikan shalat Isya. Tarawih putaran pertama ini selesai pada pukul 22.30.
Kemudian, Tarawih putaran kedua dilaksanakan satu jam menjelang azan subuh berkumandang. Adalah pemandangan yang lazim di sini, sekitar satu jam menjelang azan subuh, kaum muslimin Maroko kembali ke masjid untuk melaksanakan Tarawih putaran kedua. 

Selain itu, ada hal yang menurut saya, perlu dicontoh oleh seluruh imam masjid di Indonesia, yakni hampir seluruh imam masjid di Maroko hafal Quran 30 juz. Biasanya sang imam setiap malamnya menghabisakan lebih dari satu juz Alquran ketika memimpin shalat mulai Isya hingga witir. Sehingga ketika sampai pada sepuluh akhir Ramadhan, sang imam genap mengkhatamkan 30 juz. Di sisi lain, akan menjadi aib bagi imam-imam masjid di Maroko jika ia tak sempat khatam Quran selama Ramadhan. 



Pernah dimuat di Media :
http://www.hidayatullah.com/read/24203/07/08/2012/kisah-puasa-ramadhan-mahasiswa-indonesia-di-maroko.html
http://aceh.tribunnews.com/2012/08/02/tarawih-dua-putaran-di-maroko

Kamis, 16 Agustus 2012

MISTERI KEUTAMAAN LAILATUL QADR


MISTERI  KEUTAMAAN LAILATUL QADR


Di depan Masjid Hassan II bersama Ketua MUI DKI Jakarta
Ramadhan adalah bulan yang sangat dirindukan dan dinanti-nantikan orang-orang beriman karena kemuliaan dan keagungan yang terdapat didalamnya. Salah satunya adalah Lailatul Qadr. Sebagaimana Allah Swt. telah mensinyalir dalam al-Qur’an:
إِنَّا أَنزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ ﴿١﴾ وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ ﴿٢﴾ لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِّنْ أَلْفِ شَهْرٍ ﴿٣﴾ تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِم مِّن كُلِّ أَمْرٍ ﴿٤﴾ سَلَامٌ هِيَ حَتَّىٰ مَطْلَعِ الْفَجْرِ ﴿٥﴾
“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) saat Lailatul Qadar (malam kemuliaan). Dan tahukah kamu apakah Lailatul Qadar itu? Lailatul qadar itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.” (QS. Al-Qadr: 1-5)
Allah SWT memberitahukan bahwa Dia menurunkan Al-Qur’an pada malam Lailatul Qadar, yaitu malam yang penuh keberkahan. Allah Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya Kami menurunkannya (Al-Qur’an) pada suatu malam yang diberkahi.” (QS. Ad-Dukhaan: 3). Dan malam itu berada di bulan Ramadhan, sebagaimana firman Allah Ta ‘ala: “Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an.” (QS. Al-Baqarah: 185).
Lalu, Apakah Lailatul Qadar itu ? Seberapa besarkah keagungan dan keutamaannya? Jika malam itu terjadi, apa yang sebaiknya kita lakukan saat kita merasakan atau berada pada malam tersebut?
Pertanyaan-pertanyaan ini sangat menarik untuk kita ungkapkan dalam rangka memperoleh Lailatul Qadr. Sekalipun pertanyaan-pertanyaan tersebut bukanlah sesuatu
yang baru, tapi memiliki bobot tersendiri dan sangat relevan.
Menurut Quraish Shihab, kata Qadar (قدر) sesuai dengan penggunaannya dalam ayat-ayat Al Qur’an dapat memiliki tiga arti, yaitu:
1.    Penetapan dan pengaturan. Sehingga Lailatul Qadr dipahami sebagai malam penetapan Allah bagi perjalanan hidup manusia. Penggunaan Qadr sebagai ketetapan dapat dijumpai pada surat Ad Dukhan ayat 3-5 : “Sesungguhnya Kami menurunkannya (Al-Quran) pada suatu malam, dan sesungguhnya Kamilah yang memberi peringatan. Pada malam itu dijelaskan semua urusan yang penah hikmah, yaitu urusan yang besar di sisi Kami.”
2.    Kemuliaan. Malam tersebut adalah malam mulia tiada bandingnya. Ia mulia karena terpilih sebagai malam turunnya Al-Quran. Penggunaan Qadar yang merujuk pada kemuliaan dapat dijumpai pada surat Al-An’am (6): 91 yang berbicara tentang kaum musyrik: “Mereka itu tidak memuliakan Allah dengan kemuliaan yang semestinya, tatkala mereka berkata bahwa Allah tidak menurunkan sesuatu pun kepada masyarakat.”
3.    Sempit. Malam tersebut adalah malam yang sempit, karena banyaknya malaikat yang turun ke bumi, seperti yang ditegaskan dalam surat Al-Qadr. Penggunaan Qadar untuk melambangkan kesempitan dapat dijumpai pada surat Ar-Ra’d ayat 26: “Allah melapangkan rezeki yang dikehendaki dan mempersempit (bagi yang dikehendaki-Nya).” Ibnu Abbas RA. berkata: “Allah menurunkan Al-Qur’anul Karim keseluruhannya secara sekaligus dari Lauh Mahfuzh ke Baitul ‘Izzah (langit pertama) pada malam Lailatul Qadar. Kemudian diturunkan secara berangsur-angsur kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sesuai dengan konteks berbagai peristiwa selama 23 tahun.”
Malam itu dinamakan Lailatul Qadar karena keagungan nilainya dan keutamaannya di sisi Allah Swt. Juga, karena pada saat itu ditentukan ajal, rezki, dan lainnya selama satu tahun, sebagaimana firman Allah: “Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah.” (Ad-Dukhaan: 4). Kemudian, Allah berfirman mengagungkan kedudukan Lailatul Qadar yang Dia khususkan untuk menurunkan Al-Qur’anul Karim: “Dan tahukah kamu apakah Lailatul Qadar itu?” Selanjutnya Allah menjelaskan nilai keutamaan Lailatul Qadar dengan firman-Nya: “Lailatul Qadar itu lebih baik dari pada seribu bulan.”
Beribadah di malam itu dengan shalat tarawih, shalat tahajjud, membaca Al-Qur’an, dzikir, doa, istighfar, taubat kepada Allah dsb. Sama dengan beribadah selama seribu bulan di waktu-waktu lain. Seribu bulan sama dengan 83 tahun 4 bulan. Lalu Allah memberitahukan keutamaannya yang lain, juga berkahnya yang melimpah dengan banyaknya malaikat yang turun di malam itu, termasuk Jibril. Mereka turun dengan membawa semua perkara, kebaikan maupun keburukan yang merupakan ketentuan dan takdir Allah. Mereka turun dengan perintah dari Allah. Selanjutnya, Allah menambahkan keutamaan malam tersebut dengan firman-Nya: “Malam itu (penuh) kesejahteraan hingga terbit fajar” (QS. Al-Qadr: 5)
Maksudnya, malam itu adalah malam keselamatan dan kebaikan seluruhnya, tak sedikit pun ada kejelekan di dalamnya, sampai terbit fajar. Di malam itu, para malaikat -termasuk malaikat Jibril mengucapkan salam kepada orang-orang beriman. Dalam satu hadits shahih, Rasulullah Saw. menyebutkan keutamaan melakukan qiyamul lail (sholat malam) di malam tersebut. Beliau bersabda: “Barangsiapa melakukan shalat malam pada saat Lailatul Qadar karena iman dan mengharap pahala Allah, niscaya diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (Hadits Muttafaq ‘Alaih)
Tentang waktunya, Rasulullah Saw. bersabda: “Carilah Lailatul Qadar pada (bilangan) ganjil dari sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan.” (HR. Al-Bukhari, Muslim dan lainnya).
Yang dimaksud dengan malam-malam ganjil yaitu malam 21, 23, 25, 27, dan 29.
Lailatul Qadr itu dapat kita ketahui dari tanda-tandanya. Ahli hadits seperti Muslim, Ahmad, Abu Daud, dan Turmudzi meriwayatkan, bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda, “Saat terjadi Lailatul Qadr, malam terasa jernih, terang, dan tenang. Cuaca Sejuk. Tidak terasa panas. Tidak terasa dingin. Dan pada pagi harinya matahari terbit dengan terang benderang tanpa tertutup satu awan.”
Adapun mengenai amalan apa yang sebaiknya dilakukan pada malam kemuliaan ini, beberapa kitab telah memuatnya dengan sangat lengkap. Diantaranya kita diharapkan memperbanyak do’a, misalnya sebagai berikut:
اللـهم أصلح لنا ديـنـَنا الذي هـو عـصمةُ أمرِنا .. وأصلح لنا دنيانا التي فـيها معـاشُنا .. وأصلح لنا آخرتـَنا التي اٍليها معـادنـا .. واجعـل الحياة زيادةً لنا في كل خير .. واجعـل الموتَ راحةً لنا من كلِ شر.
 "Ya Allah, perbaikilah untukku agamaku yang merupakan penjaga urusanku, dan perbaikilah untukku duniaku yang di dalamnya adalah kehidupanku, dan perbaikilah untukku akhiratku yang kepadanya aku kembali, dan jadikanlah kehidupan (ini) menambah untukku dalam setiap kebaikan, dan kematian menghentikanku dari setiap kejahatan.”
“Ya Allah, sesungguhnya engkau Maha Pengampun dan menyukai sifat pemaaf, maka ampunilah aku”

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
 "Wahai Tuhan kami, berikanlah kepada kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan jagalah kami dari siksa Neraka.”

Wallahu A’lam Bisshowab…

"Dimuat di Koran Tribunnews.com - Senin, 30 Juli 2012 22:52 WIB "